Kamis, 26 Februari 2015

PENGERTIAN DAN PENANGANANA AMDAL

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

AMDAL pertama kali diperkenalkan pada tahun 1969 oleh National Environmental Policy Act di Amerika Serikat. Menurut UU No. 23 tahun 1997 tentang pengelolaan Lingkungan Hidup dan PP no 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Jika Indonesia mempunyai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang harus dibuat jika seseorang ingin mendirikan suatu proyek yang diperkirakan akan memberikan dampak besar dan penting terhadap lingkungan, Belanda pun mempunyai milieu effect apportage disingkat m.e.r. Sebenarnya  Indonesia dan Belanda bukanlah penemu sistem ini, tetapi ditiru dari Amerika Serikat yang diberi nama Environmental Impact Assesment (EIA). AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
Pada dasarnya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah keseluruhan proses yang meliputi penyusunan berturut-turut sebagaimana diatur dalam PP nomor 27 tahun 1999 yang terdiri dari:
-         Kerangka Acuan (KA) adalah ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan.
-         Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha atau kegiatan.
-         Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) adalah upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan atau kegiatan.
-         Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) adalah upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha atau kegiatan.
1.2 Tujuan umum
Agar mahasiswa lebih memahami tentang pengetian,kegunaan dan bagian – bagian amdal serta mengetahui bagaimana proses dari amdal tersebut dan dampak yang diakibatkan oleh buruknya pengaturan lingkungan bagi manusia.



1.3 Perumusan Masalah
1.      Apakah yang di maksud dengan Amdal ?
2.      Apa Guna Amdal ?
3.      Bagaimana Prosedur Amdal ?
4.      Siapa Yang Menyusun Amdal ?
5.      Siapa Saja Pihak Yang terlibat Dalam Proses Amdal ?
6.      Apa yang dimaksud UKL dan UPL ?
7.      Apa kaitan Amda dengan dokumen atau kajian lingkungan lainnya ?
8.      Apa Dampak dari lingkungan yang buruk ?


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Amdal
AMDAL merupakan singkatan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. AMDAL merupakan kajian dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, dibuat pada tahap perencanaan, dan digunakan untuk pengambilan keputusan.
Hal-hal yang dikaji dalam proses AMDAL: aspek fisik-kimia, ekologi, sosial- ekonomi, sosial-budaya, dan kesehatan masyarakat sebagai pelengkap studi kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.
AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan (Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).
Agar pelaksanaan AMDAL berjalan efektif dan dapat mencapai sasaran yang diharapkan, pengawasannya dikaitkan dengan mekanisme perijinan. Peraturan pemerintah tentang AMDAL secara jelas menegaskan bahwa AMDAL adalah salah satu syarat perijinan, dimana para pengambil keputusan wajib mempertimbangkan hasil studi AMDAL sebelum memberikan ijin usaha/kegiatan. AMDAL digunakan untuk mengambil keputusan tentang penyelenggaraan/pemberian ijin usaha dan/atau kegiatan.
2.2 Kegunaan Amdal
-         Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah
-         Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan
-         Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana usaha dan/atau kegiatan
-         Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
-         Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana usaha dan atau kegiatan
-         memberikan alternatif solusi minimalisasi dampak negative
-         digunakan untuk mengambil keputusan tentang penyelenggaraan/pemberi ijin usaha dan/atau kegiatan
2.3 Prosedur Amdal
-         Proses penapisan (screening) wajib AMDAL
-         Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat
-         Penyusunan dan penilaian KA-ANDAL (scoping)
-         Penyusunan dan penilaian ANDAL, RKL, dan RPL Proses penapisan atau kerap juga disebut proses seleksi kegiatan wajib AMDAL, yaitu menentukan apakah suatu rencana kegiatan wajib menyusun AMDAL atau tidak.
Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat. Berdasarkan Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 08/2000, pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatannya selama waktu yang ditentukan dalam peraturan tersebut, menanggapi masukan yang diberikan, dan kemudian melakukan konsultasi kepada masyarakat terlebih dulu sebelum menyusun KA-ANDAL.
Proses penyusunan KA-ANDAL. Penyusunan KA-ANDAL adalah proses untuk menentukan lingkup permasalahan yang akan dikaji dalam studi ANDAL (proses pelingkupan).
Proses penilaian KA-ANDAL. Setelah selesai disusun, pemrakarsa mengajukan dokumen KA-ANDAL kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal untuk penilaian KA-ANDAL adalah 75 hari di luar waktu yang dibutuhkan oleh penyusun untuk memperbaiki/menyempurnakan kembali dokumennya.
Proses penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL. Penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL dilakukan dengan mengacu pada KA-ANDAL yang telah disepakati (hasil penilaian Komisi AMDAL).
Proses penilaian ANDAL, RKL, dan RPL. Setelah selesai disusun, pemrakarsa mengajukan dokumen ANDAL, RKL dan RPL kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal untuk penilaian ANDAL, RKL dan RPL adalah 75 hari di luar waktu yang dibutuhkan oleh penyusun untuk memperbaiki/menyempurnakan kembali dokumennya.

2.4 Siapa Yang Menyusun Amdal
Dokumen AMDAL harus disusun oleh pemrakarsa suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.
Dalam penyusunan studi AMDAL, pemrakarsa dapat meminta jasa konsultan untuk menyusunkan dokumen AMDAL. Penyusun dokumen AMDAL harus telah memiliki sertifikat Penyusun AMDAL dan ahli di bidangnya. Ketentuan standar minimal cakupan materi penyusunan AMDAL diatur dalam Keputusan Kepala Bapedal Nomor 09/2000.

2.5 Pihak – Pihak yang terlibat dalam penyusunan amdal
Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah Komisi Penilai AMDAL, pemrakarsa, dan masyarakat yang berkepentingan.
Komisi Penilai AMDAL adalah komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL. Di tingkat pusat berkedudukan di Kementerian Lingkungan Hidup, di tingkat Propinsi berkedudukan di Bapedalda/lnstansi pengelola lingkungan hidup Propinsi, dan di tingkat Kabupaten/Kota berkedudukan di Bapedalda/lnstansi pengelola lingkungan hidup Kabupaten/Kota.
Unsur pemerintah lainnya yang berkepentingan dan warga masyarakat yang terkena dampak diusahakan terwakili di dalam Komisi Penilai ini. Tata kerja dan komposisi keanggotaan Komisi Penilai AMDAL ini diatur dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, sementara anggota-anggota Komisi Penilai AMDAL di propinsi dan kabupaten/kota ditetapkan oleh Gubernur dan Bupati/Walikota.
Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggungjawab atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan.
Masyarakat yang berkepentingan adalah masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL berdasarkan alasan-alasan antara lain sebagai berikut: kedekatan jarak tinggal dengan rencana usaha dan/atau kegiatan, faktor pengaruh ekonomi, faktor pengaruh sosial budaya, perhatian pada lingkungan hidup, dan/atau faktor pengaruh nilai-nilai atau norma yang dipercaya.Masyarakat berkepentingan dalam proses AMDAL dapat dibedakan menjadi masyarakat terkena dampak, dan masyarakat pemerhati.
2.6 Apa yang dimaksud UKL dan UPL ?
Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup oleh penanggung jawab dan atau kegiatan yang tidak wajib melakukan AMDAL (Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 86 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup).
Kegiatan yang tidak wajib menyusun AMDAL tetap harus melaksanakan upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan. Kewajiban UKL-UPL diberlakukan bagi kegiatan yang tidak diwajibkan menyusun AMDAL dan dampak kegiatan mudah dikelola dengan teknologi yang tersedia.
UKL-UPL merupakan perangkat pengelolaan lingkungan hidup untuk pengambilan keputusan dan dasar untuk menerbitkan ijin melakukan usaha dan atau kegiatan.
Proses dan prosedur UKL-UPL tidak dilakukan seperti AMDAL tetapi dengan menggunakan formulir isian yang berisi :
-         Identitas pemrakarsa
-         Rencana Usaha dan/atau kegiatan
-         Dampak Lingkungan yang akan terjadi
-         Program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
-         Tanda tangan dan cap
Formulir Isian diajukan pemrakarsa kegiatan kepada :
-         Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Kabupaten/Kota untuk kegiatan yang berlokasi pada satu wilayah kabupaten/kota
-         Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi untuk kegiatan yang berlokasi lebih dari satu Kabupaten/Kota
-         Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan untuk kegiatan yang berlokasi lebih dari satu propinsi atau lintas batas negara.



2.7 Apa kaitan Amda dengan dokumen atau kajian lingkungan lainnya ?
AMDAL-UKL/UPL
Rencana kegiatan yang sudah ditetapkan wajib menyusun AMDAL tidak lagi diwajibkan menyusun UKL-UPL (lihat penapisan Keputusan Menteri LH 17/2001).
UKL-UPL dikenakan bagi kegiatan yang telah diketahui teknologi dalam pengelolaan limbahnya.
AMDAL dan Audit Lingkungan Hidup Wajib Bagi kegiatan yang telah berjalan dan belum memiliki dokumen pengelolaan lingkungan hidup (RKL-RPL) sehingga dalam operasionalnya menyalahi peraturan perundangan di bidang lingkungan hidup, maka kegiatan tersebut tidak bisa dikenakan kewajiban AMDAL, untuk kasus seperti ini kegiatan tersebut dikenakan Audit Lingkungan Hidup Wajib sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 30 tahun 2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Audit Lingkungan yang Diwajibkan. Audit Lingkungan Wajib merupakan dokumen lingkungan yang sifatnya spesifik, dimana kewajiban yang satu secara otomatis menghapuskan kewajiban lainnya kecuali terdapat kondisi-kondisi khusus yang aturan dan kebijakannya ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. Kegiatan dan/atau usaha yang sudah berjalan yang kemudian diwajibkan menyusun Audit Lingkungan tidak membutuhkan AMDAL baru.
AMDAL dan Audit Lingkungan Hidup Sukarela
Kegiatan yang telah memiliki AMDAL dan dalam operasionalnya menghendaki untuk meningkatkan ketaatan dalam pengelolaan lingkungan hidup dapat melakukan audit lingkungan secara sukarela yang merupakan alat pengelolaan dan pemantauan yang bersifat internal. Pelaksanaan Audit Lingkungan tersebut dapat mengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 42 tahun 1994 tentang Panduan umum pelaksanaan Audit Lingkungan.
Penerapan perangkat pengelolaan lingkungan sukarela bagi kegiatan-kegiatan yang wajib AMDAL tidak secara otomatis membebaskan pemrakarsa dari kewajiban penyusunan dokumen AMDAL. Walau demikian dokumen-dokumen sukarela ini sangat didorong untuk disusun oleh pemrakarsa karena sifatnya akan sangat membantu efektifitas pelaksanaan pengelolaan lingkungan sekaligus dapat “memperbaiki” ketidaksempurnaan yang ada dalam dokumen AMDAL. Dokumen lingkungan yang bersifat sukarela ini sangat bermacam-macam dan sangat berguna bagi pemrakarsa, termasuk dalam melancarkan hubungan perdagangan dengan luar negeri. Dokumen-dokumen tersebut antara lain adalah Audit Lingkungan Sukarela, dokumen-dokumen yang diatur dalam ISO 14000, dokumen-dokumen yang dipromosikan penyusunannya oleh asosiasi-asosiasi industri/bisnis, dan lainnya.




2.8 Apa dampak dari lingkungan  yang buruk

Salah satu dampak yang paling dirasakan oleh manusia apabila dalam pelaksanaan amdal yang tidak memadai ( buruk ) adalah banjir.
Banjir adalah dimana suatu daerah dalam keadaan tergenang oleh air dalam jumlah yang begitu besar. Sedangkan banjir bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba yang disebabkan oleh karena tersumbatnya sungai maupun karena pengundulan hutan disepanjang sungai sehingga merusak rumah-rumah penduduk maupun menimbulkan korban jiwa.
Bencana banjir hampir setiap musim penghujan melanda Indonesia. Berdasarkan nilai kerugian dan frekuensi kejadian bencana banjir terlihat adanya peningkatan yang cukup berarti. Kejadian bencana banjir tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor alam berupa curah hujan yang diatas normal dan adanya pasang naik air laut. Disamping itu faktor ulah manusia juga berperan penting seperti penggunaan lahan yang tidak tepat (pemukiman di daerah bantaran sungai, di daerah resapan, penggundulan hutan, dan sebagainya), pembuangan sampah ke dalam sungai, pembangunan pemukiman di daerah dataran banjir dan sebagainya.
BAB III
PEMECAHAN MASALAH
3.1 Penyebab terjadinya banjir
-         Curah hujan tinggi
-         Permukaan tanah lebih rendah dibandingkan muka air laut.
-         Terletak pada suatu cekungan yang dikelilingi perbukitan dengan pengaliran air keiuar sempit.
-         Banyak  pemukiman yang dibangun pada dataran sepanjang sungai.
-         Aliran sungai tidak lancar akibat banyaknya sampah serta bangunan di pinggir sungai.
-         Kurangnya tutupan lahan di daerah hulu sungai.




3.2 Tindakan Untuk Mengurangi Dampak Banjir
-         Penataan daerah aliran sungai secara terpadu dan sesuai fungsi lahan.
-         Pembangunan sistem pemantauan dan peringatan dini pada bagian sungai yang sering menimbulkan banjir.
-         Tidak membangun rumah dan pemukiman di bantaran sungai serta daerah banjir.
-         Tidak membuang sampah ke dalam sungai. Mengadakan Program Pengerukan sungai.
-         Pemasangan pompa untuk daerah yang lebih rendah dari permukaan laut.
-         Program penghijauan daerah hulu sungai harus selalu dilaksanakan serta mengurangi aktifitas di bagian sungai rawan banjir.
3.3 Yang Harus dilakukan setelah banjir
-         Secepatnya membersihkan rumah, dimana lantai pada umumnya tertutup lumpur dan gunakan antiseptik untuk membunuh kuman penyakit.
-         Cari dan siapkan air bersih untuk menghindari terjangkitnya penyakit diare yang sering berjangkit setelah kejadian banjir.
-         Waspada terhadap kemungkinan binatang berbisa seperti ular dan lipan, atau binatang penyebar penyakit seperti tikus, kecoa, lalat, dan nyamuk.
-         Usahakan selalu waspada apabila kemungkinan terjadi banjir susulan.








BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Dewasa ini kesadaran terhadap lingkungan hidup di negara indonesia semakin membaik, walaupun masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain, hal ini di butkikan dengan gencarnya isu-isu lingkungan yang mulai banyak digembar gemborkan di media massa, salah satunya adalah tentang analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) suatu kawasan. namun ironisnya sampai saat sekarang masih banyak masyarakat yang masih belum mengerti AMDAL, bahkan AMDAL yang notabene Tata cara penyusunannya telah diatur di dalam (PermenLH no 08 tahun 2006 tentang pedoman penyusunan AMDAL) secara jelas, seringkali penyusunan AMDAL hanya dengan meng-copy paste dari AMDAL yang lainnya.
Dalam pelaksanaan penyusunan amdal , terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
-         Penentuan kriteriawajib AMDAL, saat ini, Indonesia menggunakan/menerapkan penapisan 1 langkah dengan menggunakan daftar kegiatan wajib AMDAL (one step scoping by pre request list). Daftar kegiatan wajib AMDAL dapat dilihat di Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006
-         Apabila kegiatan tidak tercantum dalam peraturan tersebut, maka wajib menyusun UKL-UPL, sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 86 Tahun 2002
-         Penyusunan AMDAL menggunakan Pedoman Penyusunan AMDAL sesuai dengan Permen LH NO. 08/2006
-         Kewenangan Penilaian didasarkan oleh Permen LH no. 05/2008
4.2 Saran – saran
Untuk menangulangi atau mencegah  masalah banjir adalah :
-         Mengeruk sungai/kali dan saluran air yang ada di sekitar kita, sebaiknya jangan nungguin pemerintah yang melakukan, percuma kalau ditungguin kelamaan.
-         Membuat sumur resapan air di sekitar rumah kita
-         Membuat lubang-lubang biopori
-         Memperlebar dan merehabilitasi kali/sungai, untuk menambah kapasitas sungai dalam menampung debit air
-         Jangan membuang sampah di sungai atau saluran air
-         Memperbaiki Amdal
Pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia belum memiliki arah yang jelas, hal ini dapat dilihat dari kurangnya komitmen pemimpin dan masyarakat bangsa ini untuk menjaga kelestarian dan keberlangsungan lingkungan hidup. Sejak pencanangan program pembangunan nasional, berbagai masalah lingkungan hidup mulai terjadi. Masalah lingkungan hidup tersebut antara lain, adanya berbagai kerusakan lingkungan, pencemaran di darat, laut dan udara, serta berkurangnya berbagai sumber daya alam. Hal tersebut dapat terjadi disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pemanfaatan dan ketersediaan sumber daya alam yang ada serta kurang kesadaran akan pentingnya keberlangsungan lingkungan hidup untuk generasi sekarang maupun masa depan.
Lingkungan hidup Indonesia sebagai suatu sistem yang terdiri dari lingkungan sosial (sociosystem), lingkungan buatan (technosystem) dan lingkungan alam (ecosystem) dimana ketiga subsistem ini saling berinteraksi (saling mempengaruhi). Ketahanan masing-masing subsistem ini dapat meningkatkan kondisi seimbang dan ketahanan lingkungan hidup, dimana kondisi ini akan memberikan jaminan keberlangsungan lingkungan hidup demi peningkatan kualitas hidup setiap makhluk hidup di dalamnya. Ketika salah satu subsistem di atas menjadi superior dan berkeinginan untuk mengalahkan atau menguasai yang lain maka di sanalah akan terjadi ketidakseimbangan. Contohnya adalah ketika manusia dengan teknologi ciptaannya ingin memanfaatkan alam demi kelangsungan hidup dan menyebabkan kerusakan pada lingkungan alam.
Eksploitasi alam tentu saja tidak dapat dicegah, karena sudah merupakan fitrah manusia memanfaatkan alam untuk kesejahteraannya. Tetapi tingkat kerusakan akibat pemanfaatan alam ataupun pengkondisian kembali (recovery) alam yang sudah dimanfaatkan merupakan hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya ketidakseimbangan. Adapun cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan telaah secara mendalam mengenai kegiatan/usaha yang akan dilakukan di lingkungan hidup sehingga dapat diketahui dampak yang timbul dan cara untuk mengelola dan memantau dampak yang akan terjadi tersebut. Metode ini dikenal juga dengan analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) atau environmental impact assessment.
Environmental impact assessment atau analisa mengenai dampak lingkungan diperkenalkan pertama kali pada tahun 1969 oleh National Environmental Policy Act di Amerika Serikat. Menurut UU No. 23 tahun1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan PP No. 27 tahun1999 tentang Analisis mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
Amdal merupakan kajian dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, dibuat pada tahap perencanaan, dan digunakan untuk pengambilan keputusan. yang dikaji dalam proses Amdal: aspek fisik-kimia, ekologi, sosial-ekonomi, sosial-budaya, dan kesehatan masyarakat sebagai pelengkap studi kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup di satu sisi merupakan bagian studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan, di sisi lain merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Berdasarkan analisis ini dapat diketahui secara lebih jelas dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, baik dampak negatif maupun dampak positif yang akan timbul dari usaha dan/atau kegiatan sehingga dapat dipersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif
Pemerintah berkewajiban memberikan keputusan apakah suatu rencana kegiatan layak atau tidak layak lingkungan. Keputusan kelayakan lingkungan ini dimaksudkan untuk melindungi kepentingan rakyat dan kesesuaian dengan kebijakan pembangunan berkelanjutan. Untukmengambil keputusan, pemerintah memerlukan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, baik yang berasal dari pemilik kegiatan/pemrakarsa maupun dari pihak-pihak lain yang berkepentingan. Informasi tersebut disusun secara sistematis dalam dokumen AMDAL. Dokumen ini dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL untuk menentukan apakah informasi yang terdapat didalamnya telah dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dan untuk menilai apakah rencana kegiatan tersebut dapat dinyatakan layak atau tidak layak berdasarkan suatu kriteria kelayakan lingkungan yang telah ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah.

Orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Pemrakarsa inilah yang berkewajiban melaksanakan kajian AMDAL. Meskipun pemrakarsa dapat menunjuk pihak lain (seperti konsultan lingkungan hidup) untuk membantu melaksanakan kajian AMDAL, namun tanggung jawab terhadap hasil kajian dan pelaksanaan ketentuan-ketentuan AMDAL tetap di tangan pemrakarsa kegiatan.

“Persepsi Pedagang Pribumi/lokal terhadap pedagang Pendatang di pasar Kajase Di Kecamatan Teminabuan Kabupaten Sorong Selatan.

BAB 1
PENDAHULUAN 
1.1. Latarbelakang Masalah 
Beragamnya suku bangsa dan bahasa dalam suatu ikatan semboyan Bhineka Tunggal Ika menjadikan bangsa Indonesia sebagai sebuah Negara yang sangat majemuk, mulai dari Sabang sampai Marauke. Seperti yang diketahui, Majemuknya bangsa Indonesia bisa terlihat dari banyaknya pulau dan bahasa yang di pakai oleh berbagai suku dan etnis. Lebih dari 17.000 pulau besar dan kecil yang tersebar dari Sabang sampai Marauke dan dihuni oleh banyak sekali kelompok etnis yang menggunakan tidak kurang dari 300 jenis bahasa lokal atau dialek dalam bahasa sehari-hari (Susetyo, 2010: 1). Namun, kekayaan yang bersifat multikultural ini justru akan menjadi sebuah boomerang, dimana orang saling menghancurkan satu sama lain dengan mengatasnamakan perbedaan kelompok, yang akan menjadi malapetaka jika tidak dipelihara dan dijalin suatu kerukunan antaretnis di Indonesia. Kegagalan mengelola kemajemukan akan menjadi musibah Kemanusiaan (Susetyo, 2010: 3) yang akan menghancurkan integrasi Bangsa. Perbedaan ini yang kemudian mulai dialami antara pedagang Pendatang dan pedagang Pribumi/Lokal Pribumi sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda dalam aktivitas perdagangan antara kedua kelompok pedagang tersebut di pasar Kajase Kabupaten Sorong selatan provinsi Papua barat. Semenjak di relokasikan pasar lama Ampera ke pasar baru Kajase, terjadi penolakan oleh kelompok pedagang Pribumi/Lokal dengan alasan yang berbeda salah satu alasan yang di kemukakan oleh salah seorang pedagang Pribumi/Lokal yang mengatakan alasan mereka menolak untuk di relokasi di karenakan pasar Ampera memiliki sejarah yang banyak bagi mereka di tambah mereka sudah nyaman dan memiliki tempat yang layak dan strategis untuk memperdagangkan dagangan mereka. Sementara kelompok pedagang pendatang ada sebagian yang terima dengan adanya relokasi ini namun sebagian dari pedagang ini menolak untuk di relokasi atau di pindahkan kepasar baru Kajase dengan alasan bahwa tempat dagang yang sebangunan dengan tempat tinggal mereka ini sudah sangat membantu mereka dalam beraktifitas di rumah ataupun kios/warung mereka, sementera di pasar baru Kajase yang jauh dari tempat tinggal mereka ini, hanya di sediakan kios ataupun petakan yang ukurannya relative kecil. Kebijakan relokasi Pemerintah daerah kabupaten Sorong Selatan di pasar Ampera ke pasar baru Kajase dengan membongkar paksa tempat-tempat penjualan Pedagang dan mengusir Pedagang yang masih bejualan di pasar Ampera, akibat penolakan relokasi dari pedagang yang masih ingin berjualan di pasar Ampera. Kebijakan yang di ambil Pemerintah tidak membawa dampak positif menurut para pedagang, sehingga menimbulkan konflik antarsesama Pedagang yakni pedagang Pendatang dan Pribumi/Lokal di karenakan terdapat berbagai macam masalah yang timbul anatara lain; penyedian kios atau petakan di pasar baru Kajase yang tidak memadai untuk menampung semua Pedagang, dalam hal ini pedagang Lokal Pribumi yang tidak kebagian tempat berjualan ataupun kios untuk memperdagangkan dagangan mereka faktor lainya adalah lokasi pasar baru Kajase yang jauh dari lokasi perumahan/perkampungan warga ini mengakibatkan mereka harus mengeluarkan ongkos transport untuk dapat sampai di pasar baru Kajase. Dengan demikian para Pedagang Pribumi/Lokal harus menggelar karung di muka jalan masuk pasar baru Kajase, atau lebih tepatnya di samping kiri dan kanan badan jalan, hal ini kemudian membuat kelompok pedagang Pendatang mulai marah dan mengamuk karena merasa dagangan mereka terhalang oleh pedangan Pribumi/Lokal yang bejualan di muka atau samping kiri dan kanan badan jalan masuk pasar baru Kajase, oleh Pembeli dan Pengunjung yang datang di pasar baru Kajase. Menurut pedagang Pendatang mereka merasa rugi dan tidak puas dengan Pelayanan Pemerintah,sebab mereka telah membayar penyewaan kios dan membayar pajak serta retribusi kebersihan kenapa harus dihalangi oleh para Pedagang Pribumi/Lokal yang tidak membayar apapun kepada Pemerintah, dan pedagang Pribumi/Lokal ini di anggap sebagai pedagang ilegal selain itu juga merusak kenyamanan dan ketertiban pasar karena tidak terdaftar sebagai pedagang pasar baru Kajase. Pedagang Pribumi/Lokal, pada umumnya memiliki karakterristik perdagangan yang relativ sama di seluruh tanah Papua. Muncul gelombang pasarisasi telah melandah Orang Papua sejak tahun 1963 saat itu Orang Papua sudah terlibat dalam ekonomi pasar namun ciri-ciri perdagangan subsistem mereka melakukan jual beli dalam bentuk “ada uang ada barang” praktek perdagangan mereka adalah pertukaran langsung komersialisasi ( barang yang semata-mata bertujuan menjadikanya sebagai kegiatan atau barang dagangan untuk memperoleh untung atau kekayaan ) yang dilakukan Orang Papua di pasar adalah menjaga kelangsungan hidup. Aktivitas ekonomi Orang Papua tidak berlansung secara teratur, demikian juga yang terjadi pada pedagang Pribumi/Lokal yang ada di pasar Ampera sebelum di relokasi ke pasar baru Kajase Kabupaten Sorong Selatan. Kegiatan mereka tergantung dengan ada tidaknya hasil produksi kebun atau hasil penangkapan meskipun pedagang Pribumi/Lokal melakukan praktek jual beli dengan pertimbangan rasional. Namun pada kenyatannya Pedagang Pribumi/Lokal belum sepenuhnya terintegrasi dalam ekonomi pasar dagang. Deskripsi perilaku ekonomi kaum Pendatang terungkap dalam tulisan Theo van Broek (1999) bahwa lapangan ekonomi dan pekerjaan yang seharusnya di isi oleh Orang Papua/pedagang Pribumi/Lokal kebanyakan di rebut oleh kaum Migran (pedagang Pendatang). Fenomena ini dapat di saksikan langsung di pasar di seluruh Papua demikian juga yang terjadi di Kabupaten Sorong Selatan pedagang Pendatang lebih menguasai perdagangan di bandingkan Orang Papua atau Pedagang Pribumi/Lokal di pasar lama Ampera ataupun setelah di relokasi kepasar baru Kajase pedagang Pendatang tetap mendominasi perdagangan. Akibat dari hal tersebut perkembangan ekonomi di tandai dengan persaingan yang sengit untuk memperebutkan peluang-peluang ekonomi yang terbatas, persaingan ini hanya dapat di menangkan oleh mereka yang telah cukup dibekali dengan pendidikan, keterampilan, dan keterbuakaan budaya untuk mampu bersaing. Hal ini yang di khawatirkan oleh kelompok pedagang Pribumi/Lokal yang tidak memiliki pengalaman dan kurang di bekali dengan pendidikan dan ketrampilan di tambah dengan tertutupnya budaya. Sehubungan dengan permasalahan di atas maka di lakukan penelitian yang berjudul “Persepsi Pedagang Pribumi/lokal terhadap pedagang Pendatang di pasar Kajase Di Kecamatan Teminabuan Kabupaten Sorong Selatan.